Kamis, 08 November 2012

makalah BBLR

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang
            Bayi lahir dengan bayi berat lahir rendah (BBLR) merupakan salah satu factor resiko yang mempunyai kontribusi terhadap kematian bayi khususnya pada masa perinatal. Selain itu bayi berat lahir rendah dapat mengalami gangguan mental dan fisik pada usia tumbuh kembang selanjutnya, sehingga membutahkan biaya perawatan yang tinggi.
            Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah salah satu hasil dari ibu hamil yang menderita energy kronis dan akan mempunyai status gizi buruk. BBLR berkaitan dengan tingginya angka kematian bayi dan balita, juga dapat berdampak serius pada kualitas generasi mendatang, yaitu akan memperlambat pertumbuhan dan perkambangan anak, serta berpengaruh pada penurunan kecerdasan.
            Salah satu indicator untuk mengetahui derajat kesehatan masyarakat adalah angka kematian bayi (AKB). Angka kematian bayi di Indonesia saat ini masih tergolong tinggi, maka kematian bayi di Indonesia tercatat 510 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2003. Ini memang bukan gambaran yang indah karena masih tergolong tinggi bila di bandingkan dengan Negara-negara di ASEAN. Penyebab kematian bayi terbanyak karena kelahiran bayi berat lahir rendah (BBLR), sementara itu prevalensi BBLR pada saat ini diperkirakan 7-14% yaitu sekitar 459.200-900.000 bayi ( depkes RI 2005)
            Menurut perkiraan WHO, pada tahun 1995 hampir semua 98% dari 5 juta kematian neonatal di Negara berkembang atau berpenghasilan rendah. Lebih dari 2/3 kematian adalah BBLR yaitu berat badan kurang dari 2500 gram. Secara global diperkirakan terdapat 25 juta persalinan per tahun dimana 17% diantaranya adalah BBLR dan hampir semua terjadi di Negara berkembang.









1.2 Tujuan
            1.2.1 Tujuan umum
Agar mahasiswa dapat mengetahui BBLR lebih luas lagi, dan dapat mengetahui penanganan untuk BBLR lebih efektif.

1.2.2 Tujuan khusus
1.     Mahasiswa dapat mengerti tentang BBLR
2.     Mahasiswa dapat mengetahui tanda-tanda BBLR
3.     Mahasiswa dapat mengetahuicara penanganannya
4.     Mahasiswa dapat mengetahui cara pengobatan pada BBLR

1.3 Rumusan masalah
1.     Apakah yang menjadi penyebab bayi BBLR?
2.     Bagaimana perawatan bayi dengan BBLR?
3.     Komplikasi apa yang menyertai bayiBBLR?



















BAB II
LANDASAN TEORI


2.1 Konsep dasar
a.     Pengertian
Berat badan bayi rendah (BBLR) ialah bayi baru lahir yang berat badannya saat kelahiran kurang dari 2500 gram.(Buku FKUI)
Bayi Berat badan bayi rendah (BBLR) ialah bayi baru lahir yang berat badannya saat kelahiran kurang dari 2500 gram tanpa memperhatikan usia gestasi.(Buku acuan nasional, pelayanan kesehatan maternal dan  bn,mneonatal).
Bayi berat badan rendah (BBLR) adalah suatu istilah yang dipakai bagi bayi premature, atau low birth weight, atau sering disebut bayi dengan berat badan lahir rendah. Hal ini dikarenakan tidak semua bayi lahir bayi dengan berat badan kurang dari 2500 gram bukan bayi premature. (WHO.1961)

2.1.1 Klasifikasi
     BBLR dapat digolongkan sebagai berikut:
a.     Prematuritas murni
Adalah masa gestasinya kurang dari 37 minggu dan berat badannya sesuai dengan berat badan untuk masa gestasi itu atau bisa disebut neonatus kurang bulan sesuai untuk masa kehamilan.
b.     Dismaturitas
Adalah bayi lahir dengan berat badab kurang dari berat badan seharusnya untuk masa gestasi itu. Berarti bayi mengalami retardasi pertumbuhan intra uterine dan merupakan bayi yang kecil untuk masa kehamilannya.








2.1.2 Etiologi
Menurut penyebab kelahiran bayi premature dapat dibagi:
a. Factor ibu
1.     Penyakit yang berhubungan langsung dengan kehamilan.
(toksemia gravidarum, perdarahan ante partum, trauma fisik dan psikologis, atau penyakit lain seperti: nephritis akut, diabetes mellitus, infeksi akut) atau tindakan operatif dapat merupakan factor etiologi prematuritas.
2.     Usia
Angka kejadian prematuritas tertinggi ialah pada usia ibu dibawah 20 tahun dan pada multi gravidarum, yang jarak kelahirannya terlalu dekat.
3.     Keadaan social ekonomi
Keadaan ini sangat berperan terhadap timbulnya prematuritas, kejadian tertinggi terdapat pada golongan social ekonomi yang rendah. Hal ini disebabkan oleh keadaan gizi yang kurang baik dan pengawasan antenatal yang kurang.
4.     Factor janin
Hidramnion, kehamilan ganda, umumnya akan mengakibatkan lahir bayi BBLR.

2.1.3 Pemeriksaan diagnostic
a.   Studi cairan amniotic, dilakukan selama kehamilan untuk mengkaji maturitas janin.
b.   Darah lengkap: penurunan hemoglobin/hemotrokit (Hb/Ht) mungkin kurang dari 10.000/m3 dengan pertukaran kekiri (kelebihan dini nifrotil dan pita) yang biasanya dihubungan dengan penyakit bakteri berat.
c.   Golongan darah: mengatakan potensial inkompatibilitas ABO.
d.   Kalsium serum: mungkin rendah
e.   Elektrolit (Na, K ,Cl).
f.   Penentuan RH dan contoh langsung (bila ibu RH negative positif) menentukan inkompatibilitas.
g.   Gas darah arteri (GDA): PO2 menurun, PCO2 meningkat, asidosis, sepsis, kesulitan nafas yang lama.
h.   Laju sedimentasi elektrolit: meningkat menunjukkan respon inflamasi akut.
i.    Protein C reaktif (beta globulin) ada dalam serum sesuai sengan proporsi beratnya proses radana enfeksius.
j.    Trombosit: trombositopenia dapat menyertai sepsis.
k.   Test shoke aspirat lambung: menentukan ada atau tidaknya surfaktan.
2.1.4 Penatalaksanaan medis
a.     Pengaturan suhu lingkungan
Terapi incubator, dengan pengaturan suhu BB Oc, BB 2kg-2,5kg:450C, suhu incubator di turunkan   10C setiap minggu, sampai bayi dapat di tempatkan pada suhu lingkungan setiap 24-270C.
b.     Makanan bayi baru lahir (diet)
Umumnya arefleks menghisap belum sempurna, kapasitas lambung masih kecil dan daya enzim pencernaan (lipase) masih kurang. Pemberian makanan dilakukan menggunakan pipet sedikit namun sering. Perhatikan kemungkinan terjadinya (pneumonia aspirasi).

2.2 Prognosis BBLR
   Kematian perinatal pada bayi BBLR 8 kali lebih besar dari bayi normal. Prognosis akan lebih buruk bila BB makin rendah, angka kematian sering disebabkan komplikasi neonatal seperti, asfiksia, aspirasi, pneumonia, perdarahan intracranial, hipoglikemia. Bila hidup akan dijumpai kerusakan saraf, gangguan bicara, IQ rendah.

2.3 Komplikasi
a.   Aspirasi mekonium, yang diikuti pneumotorax disebabkan oleh distrees pada persalinan
b.  Pada bayi KMK mempunyai hubungan yang tinggi yang mungkin disebabkan hypoxia kronik didalam uterus, pada keadaan ini harus dilakukan partial plasma dengan segera, bila tidak akan timbul gejala kejang hipotoni.
c.   Hipoglikemia, karena berkurangnya cadangan glikogen hati dan meningkatnya metabolism.
d.  Aspixia, perdarahan paru pasif, hipotermia, cacat bawaan akibat kromosom.









BAB IV
PENUTUP
4.1.       Kesimpulan
a.     Paritas merupakan factor resiko yang signifikan terhadap kejadian BBLR sehingga ibu dengan paritas lebih dari 3 anak beresiko 2,4 kali untuk kelahiran bayi dengan BBLR.
b.     Jarak kelahiran merupakan factor resiko yang signifikan terhadap kejadian BBLR sehingga ibu dengan jarak antara kelahiran dekat.
c.      Kadar haemoglobin merupakan factor resiko yang signifikan terhadap kejadian BBLR sehingga ibu dengan kadar haemoglobin dalam darah yang kurang dari 11g/dl beresiko 2,2 kali untuk melahirkan bayi denga BBLR.
d.     Pemanfaatan pelayanan ANC merupakan factor resiko yang signifikan kejadian BBLR sehingga ibu kurang memanfaatkan pelayanan ANC dengan frekuensi kunjungan pemeriksaan kehamilan yang tidak lengkap, minimal 4 kali beresiko 5 kali untuk melahirkan bayi dengan BBLR.
3.2.       Saran
a.    Perlunya peningkatan pembinaan kepada masyarakat tentang norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera sehingga dapat meningkatkan taraf kesejahteaan keluarga yang tidak hanya melibatkan ibu namun dengan adanya dukung dari suami sehingga perwujudan masyarakat sehat dapat dicapai secara optimal.
b.   Perlunya pemberian informasi secara actual kepada ibu dan suami untuk mengatur jarak kelahiran dalam rangka mencegah timbulnya dampak kesehatan pada masa kehamilan dan persalinan.
c.  Perlunya pula tingkat kesadaran dari ibu tentang pentingnya pemeriksaan kesehatan khususnya pemariksaan pada masa kehamilan yang dilakukan secara lengkap melalui pemberian informasi akan pentingnya pemeriksaan kehamilan dalam ramgka control kasehatan ibu dan bayi pada masa kehamilan.
d.  Adanya pengetahuan tentang pentingnya hidup sehat pada ibu khususnya pada masa kehamilandengan penerapan pola makan teratur dan seimbang sehingga dapat memenuhi kebutuhan nutrisi ibu dan bayiyang dikandungnya dan juga merupakan unsur pendukung pencapaian status kesehatan yang optimal baik ibu dan bayi yang dikandungnya.


DAFTAR PUSTAKA


·     Mochtar, Rustam.1998, synopsis obstetric. Jakarta :EGC
·     Yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo, 2007. Buku acuan nasional pelayanan  kesehatan maternal dan neonatal. Jakarta
·    Wong, donna,L.2004 . Pedoman klinis keperawatan pediatric. Jakarta : EGC


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar